Get Adobe Flash player

Dan Domba Itupun Menangis

Hampir tiap tahun jelang I’dul Adha saya teringat kisah domba korban yang menangis. Kisah sederhana yang diceritakan seorang Ustadz desa kepada santrinya.

Diceritakan saat Ustadz hendak membeli hewan qurban ia mendapati Dombanya sedang menangis diantara kerumunan domba yang akan dijadikan qurban. Lalu iapun mendekatinya dan terjadilah dialog singkat tentang kenapa si domba sampai menitikkan air matanya.

Sang ustadz dengan serius mendengar alasan si domba menangis, ia bercerita bahwa ia menangis karena mendengar dan mendapati bahwa banyak manusia yang datang mencari hewan qurban tetapi bukan karena mencari karunia Allah melainkan ingin mendapat pujian. Si domba dan teman-temannya sangat sedih mendapati kenyataan itu, bukan nilai spiritual seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim yang mendasari manusia tetapi nilai duniawi yang memaksanya ber-qurban merasa tidak enak dengan lingkungan bila tidak berkorban, “orang mampu tidak ber-qurban, apa kata dunia” begitu sebagian manusia berpaham, dan kadang mereka saling membanggakan bentuk fisik dan harga korbannya “lihat nih hewan qurbanku lebih besar dan pastinya lebih mahal doonk” begitu mereka manusia membanggakan diri.

Semakin bercerita si domba makin bersedih karena ia membandingkan bahwa ternyata benar-benar masih banyak manusia yang ber-qurban tetapi kelakuannya dan sifatnya malah menyerupai hewan, tidak lagi menahan rasa malu, suka beradu otot mengutamakan kekuatan fisik, bersifat rakus dan mengumbar nafsu layaknya seekor hewan. Mungkin karena itulah sering kita lihat hewan qurban yang meronta bahkan memberontak lalu berlari menjauh saat akan disembelih, si hewan tidak rela dijadikan qurban tidak ikhlas jika daging dan darah serta bulunya hanya akan menjadikan simbol kebanggaan duniawi manusia. Si hewan ingin pengurbanannya mempunyai nilai spiritual sebagaimana diajarkan nabi Ibrahim alaihisalam.

“Ya Allah, luruskan niatku kuatkan ikhlasku untuk melaksanakan qurban demi melaksanakan keyakinanku akan perintahMU” demikian doa Ustadz dalam hati setelah mendengar cerita si Domba, lalu iapun menuntun dengan mantab dombanya menuju panitia qurban untuk disembelih. Lagi-lagi diadapatinya si domba menitikkan matanya dan kembali sang Ustadz bertanya kepada si domba kenapa ia menangis “Sekarang aku menangis karena aku dipilih Tuhan untuk menjadi qurban-mu” begitu jawab si domba. Sebelum diserahkan kepada penyembelih qurban si domba sempat menitipkan salam kepada seluruh manusia yang hendak ber-qurban “ Jika manusia berkurban, maka luruskanlah niatmu ikhlaskan qurbanmu semata untuk Allah. Lalu sembelihlah nafsu-nafsu kebinatangan didalam dirimu. Maka aku akan bersuka cita untuk menjadi simbol qurbanmu….”

 Sang Ustadz dalam perjalanan mengingat dan merenungkan cerita dari si domba qurban tadi dan iapun teringat  firman Allah bahwa : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang mencapainya. ” (QS Al Hajj : 37)

Saya rangkumkan kembali kisah itu untuk mengingatkan saya tentang hakikat qurban dan untuk meninjau ulang meluruskan niat saya mengikhlaskan qurban saya semata karena Allah ta’ala.

wallahu’alam bissowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*