Get Adobe Flash player

Hikmah Qurban

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar ayat 1 dan 2).
Masih terngiang jelas gema takbir tahmid dan tahlil, bau amis darah hewan Qurban, bau sedap dan nikmatnya masakan yang berasal dari hewan Qurban. Hampir kebanyakan Khutbah I’dul Adha, acara di TV juga radio pada hari Idul Adha mengulas tentang hakikat dari Qurban, para Khatib, Ustadz, Ulama dan penceramah menyampaikan dari berbagai sudut pandang masing-masing. Dan dari berbagai materi yang kami dengar dan baca dapat diambil tiga makna atau hakikat dari qurban disesuaikan dengan kondisi keseharian kita.

Pertama, qurban bisa dimaknai sebagai mendekatkan diri kepada Allah, mengingat kepada sang Pencipta. Dengarkan dan resapi suara dan makna yang ada pada takbir Idul Adha, bagi hamba yang dekat atau ingin mendekat kepada Allah maka gema takbir bisa membuat hati tersentuh bergetar dan bisa mengenyampingkan jiwa-jiwa kotor, hati nan keras serta pikiran-pikiran jahat.

Ingat kepada Allah (dzikkrullah) upaya untuk menyucikan hati, menentramkan hati, dan mengkhusukkan kalbu sehingga seseorang mampu berendah hati dan berintrospeksi atas kesalahan dan kekeliruan sendiri yang telah dilakukan. Kecenderungan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat bisa diminimalisir, bahkan ditepis dengan zikir. Dengan zikir, hati yang selama ini gelap dan tersesat akan kembali disinari nur Ilahi sehingga prasangka, dendam, dan amarah akan melembut menjadi cinta kasih.

Jiwa yang kosong dari dzikrullâh acapkali berada dalam suasana kegelisahan, kegundahan, dan kegalauan bukan kebersamaan yang dapat mengakibatkan kesengsaraan batin, selain juga merupakan tabungan dosa yang menjadi tirai penutup kedekatan seseorang kepada Allah.

Kedua, di dalam ritual spiritual qurban terdapat nilai ketakwaan yang tinggai sebagaimana firmanNYA bahwa “Yang sampai kepadaKu bukanlah daging dan darahnya melainkan ketawakwaan kalian (Al Hajj : 37). Sebelum kisah Nabi Ibrahim alaihisalam sebenarnya ada kisah lain tentang “qurban” yaitu kisah Habil dan Kabil, dua putra Nabi Adam yang diperintahkan “berkurban” untuk menguji ketulusan mereka berdua di hadapan Allah. Dari kisah Habil dan Kabil bisa diambil pelajaran bahwa Allah menerima “qurban” yang dipersembahkan seseorang bukan dari bentuk lahiriah sesuatu yang dikurbankan, melainkan dari ketulusan jiwa yang berkurban.

Teladan tentang qurban tersebut berulang pada kisah Nabi Ibrahim alaihisalam. Tindakan Nabi Ibrahim yang menerima sepenuhnya perintah Allah namun dipihak lain beliau juga mengutamakan demokrasi dengan melakukan diskusi dengan Ismail, dan tergambar disana kepasrahan ketulusan dan pengabdian kepada Allah yang begitu besar yang terdapat dalam jiwa keduanya. Peristiwa itu bisa merupakan simbol kemenangan seorang manusia atas nafsu hewaniah, ego kecil, romantisme kepentingan pribadi.

Semangat berkurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim bukanlah perbuatan untuk mengurbankan orang lain demi tujuan dan keuntungan sesaat yang keji, melainkan suatu sikap untuk menyerahkan sesuatu yang dititipkan oleh Allah. Hal itu telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim yang mengajarkan kepasrahan dan kerelaan demi mengesakan Allah. Ketika Allah telah dinomorsatukan dalam kehidupan, maka secara otomatis kejujuran, keadilan, dan ketulusan selalu mengiringi setiap langkah manusia, di dunia mungkin yang kita dapat dari kejujuran keadilan dan ketulusan bahkan kepasrahan nilainya kecil berdasarkan pandangan manusia, tapi kelak dalam kehidupan setelah mati insya Allah semua akan terbalas selayaknya.

Ketiga, di dalam ritual spiritual qurban terdapat nilai keikhlasan dan ketulusan. Tergambar bagaimana Nabi Ibrahim alaihisalam tanpa membantah berargumen melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih sang putra Ismail.

Dalam keseharian kita juga dituntut untuk ikhlas dalam menjalankan pengabdian, tugas, yang menjadi kewajiban kita. Tugas sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai suami, sebagai isteri dan sebagai karyawan atau abdi negara. Itulah konsekwensi kita sebagai manusia di dunia.

Rasa ikhlas dan tulus yang ada pada jiwa kita akan memunculkan ketegaran dan keistiqamahan, meskipun dalam berbagai kesulitan, tantangan hambatan dan godaan kita selalu mantab menjalankan kewajiban. Lebih dari itu, rasa ikhlas yang sejati akan membuat hidup seseorang selalu merasa memeroleh kemenangan dalam kekalahan, kenyang dalam kelaparan, cukup dalam kekurangan, aman dalam ketakutan, dan selalu optimis meskipun derita datang mendera.

Marilah kita mencoba mengambil hikmah peristiwa qurban yang bernilai mendekatkan diri pada Allah, peningkatan ketakwaan, dan nilai keikhlasan dan ketulusan dalam melaksanakan kewajiban kita sehari-hari,,,sehingga kita tak akan lagi selalu bertanya “APA YANG SUDAH SAYA DAPATKAN……” tetapi berubah menjadi satu pernyataan dan tekat “APA YANG SUDAH SAYA BERIKAN…”

Akhirnya dengan semangat Idul Adha, semoga kita  mampu “menyembelih” watak buruk dan sifat kehewanan yang mungkin ada dalam diri kita seperti sombong, serakah, sirik, dan dengki. aamiin (sabang 1433 H)

(disarikan dari berbagai materi khutbah, ceramah, tausyiah dan artikel)