Get Adobe Flash player

Potensi Sabang

POTENSI DAN PELUANG INVESTASI

POTENSI  LETAK GEOGRAFIS DAN PELABUHAN BEBAS

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang yang ditetapkan dengan Undang-undang No 37 Tahun 2000 terdiri dari Kota Sabang (Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako & Pulau Rondo) dan Kecamatan Pulau Aceh, Aceh Besar (Pulau Breuh, Pulau Nasi dan Pulau Teunom) yang meliputi luas wilayah 394 km2.

Kawasan Sabang memiliko posisi geografis yang strategis bagi jalur perdagangan dan pelayaran dunia karena karena terletak pada jalur masuk bagian barat antara Kawasan Asia Pasifik dan Asia Barat Daya. Sebagai pintu masuk Selat Malaka, Sabang dilalui rata-rata 50,000 kapal kontainer setiap tahunnya.

Kedalaman laut secara alami di Pelabuhan Sabang yang mencapai 22 meter membuat kawasan ini siap untuk menerima kedatangan kapal raksasa generasi masa akan datang.

Sebagai Pelabuhan Bebas, Kawasan Sabang merupakan kawasan yang berada di wilayah hukum Indonesia yang terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari :

§ tata niaga;

§ pengenaan bea masuk;

§ pajak bertambahan nilai;

§ pajak penjualan atas barang mewah.

 

Melalui PP Nomor 83 Tahun 2010, berbagai perizinan untuk melakukan investasi dan bisnis di Kawasan Sabang telah dilimpahkan dari Pemerintah Pusat kepada Dewan Kawasan Sabang.

 

SEKTOR PERIKANAN

 Potensi Sektor PerikananDisamping potensi perairan teritorial (4-12 mil), Kawasan Sabang juga memiliki perairan ZEE 200 mil dan laut lepas (>ZEE 200 mil) yang produktif, mengandung potensi ikan pelagis dan demersal. 

Hal yang sangat menunjang adalah adanya lokasi up welling. Front massa air terjadi akibat pertemuan 3 arus yang berasal dari perairan Samudera Indonesia, Selat Malaka dan Teluk Benggala. Oleh sebab itu Kawasan Sabang memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sebagai home base untuk kegiatan penangkapan ikan di ZEE dan laut lepas.

 

Apabila Sabang dijadikan sebagai home base dalam upaya memanfaatkan perairan ZEE 200 mil dan internasional di Samudera Indonesia maka kapal-kapal ikan asing seperti dari Phuket dan Penang, akan mengalami penghematan terhadap waktu dan biaya.

 

 Peluang Investasi Sektor Perikanan : 1.     Pusat bisnis pembuatan/perbaikan kapal dan penangkapan ikan

2.       Pusat bisnis penangkapan ikan

3.       Export procecing zone (EPZ)

4.       Export ikan (cargo laut dan udara)

5.       Budidaya perikanan laut

6.       Pusat Perikanan Internasional

7.       Pembangunan tempat pelelangan ikan

8.       Pembangunan pelabuhan perikanan

9.       Pembangunan industri pengawetan ikan

10.     Pengolahan tepung ikan

11.     Pembangunan ruang pendingin (cold storage)

SEKTOR PERDAGANGAN DAN INDUSTRI

 Potensi Sektor Perdagangan dan IndustriSebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas investasi dalam sektor perdagangan dan industri sangat potensial dilakukan di Kawasan Sabang. Dengan kemudahan bebas bea masuk dan tata niaga, serta bebas PPn dan Pajak Barang Mewah  maka mesin dan bahan baku dapat dimasukan ke Kawasan Sabang dengan harga lebih murah dibandingkan kawasan lainnya di Indonesia. Keunggulan ini akan meningkatkan daya saing dari produk yang diproduksi di Kawasan Sabang.

 

Selain itu bahan-bahan material dari kawasan daratan yang selama ini diproses di luar Aceh atau luar negeri akan lebih kompetitif jika diproses atau di eksport di atau melalui Kawasan Sabang.  Hasil alam dari kawasan darat Aceh seperti nilam, pinang, karet, sawit, kopra, coklat, kopi juga hasil-hasil pertambangan dan hutan lainnya.

 

 Peluang Investasi Sektor Perdagangan dan Industri : § Pengembangan kawasan perdagangan menjadi kegiatan bisnis

§ Pengembagan prasarana dan sarana perdagangan

§ Pengembangan kawasan industri Balohan

§ Pengembangan industri pengelohan hasil hutan

§ Pengembangan industri perkapalan/galangan

§ Industri rekondisi otomotif

§ Bunker CPO

§ Refinery

§ Pengembangan industri kerajinan rakyat

§ Intalasi listrik dan air

SEKTOR PARIWISATA

 Potensi Sektor Pariwisata Kawasan Sabang dengan anugrah alam yang indah memiliki berbagai objek  wisata yang potensial untuk dikembangkan, diantanya:

1.    Tugu Kilometer Nol Indonesia

2.    Taman Laut dan Wisata Bawah Laut Iboih dan Pulau Rubiah

3.    Kawasan Wisata Gapang

4.    Kawasan Wisata Lhong Angen dengan Gua Sarang, Pantai Pasir Putih dan Wisata Hutan

5.    Danau Anuek Laot dan Danau Pria Laot

6.    Air Panas Kenekai, Air Panas Jaboi

7.    Pantai Kasih, Pantai Paradisi, Tapak Gajah dan Sumur Tua

8.    Kawasan Wisata Kota Tua/Kota Pelabuhan

9.    Kawasan Wisata Pulau Aceh

 

Kawasan Sabang juga terletak relatif dekat dengan pusat wisata Asia, yakni Phuket, Thailand dan Pulau Langkawi Malaysia.

 

 Peluang Investasi Sektor Pariwisata : § Jasa akomodasi, transportasi dan paket rekreasi

§ Pengembangan jasa dan fasilitas wisata bahari dan olah raga pantai seperti sky air, selancar angin dan lainnya

§ Pengembangan investasi atraksi wisata bahari baik di kota Sabang maupun di Pulo Aceh seperti tracking, snorkeling, diving, hiking dan lainnya

§ Pengembangan penginapan tradisional, bungalow, cottage dan kondisi lahan yang tersedia

§ Pembangunan dan pengembangan restoran, rumah makan, cafee dan lain sebagainya.

 (http://bpks.go.id/index2.php?module=investasi&act=view&id=11)

 

Potensi Wisata

Kota Sabang dan sekitarnya

Pelabuhan alam: Pelabuhan alam ini memiliki kedalaman air lebih dari 20m, jauh lebih dalam dari pelabuhan lain di Indonesia dan negara-negara terdekat seperti Singapura, sehingga sekarang sedang dikembangkan sebagai pelabuhan antara kontainer.

Perahu tsunami di dermaga: Tsunami yang melanda Aceh  pada 26 Desember 2004 hanya menyebabkan kerusakan kecil di sepanjang pantai Weh dibandingkan dengan kehancuran traumatis di Banda Aceh dan kota-kota lain di daratan. Salah satu kenang-kenangan dari tsunami yang masih dapat dilihat adalah kapal nelayan yang terdampar di dermaga di Sabang.

Bangunan bersejarah: Banyak bangunan di Sabang dibangun oleh Belanda selama masa jaya sebagai pelabuhan laut dalam setengah abad sebelum Perang Dunia II seperti Hotel Samudra dibangun pada 1899 dan Artist Hall.

Pohon asam: Beberapa pohon asam kuno terdapat di banyak tempat, terutama di daerah Kota Hulu yang ditanam pada abad yang lalu.

Industri rumah: Beberapa pabrik kecil di Sabang membuat manisan buah dan kue tradisional kacang hitam.

Terowongan Jepang dan bunker: Sepanjang jalan di sekitar kota dapat dilihat banyak bunker dan terowongan dibangun oleh Jepang dengan kerja paksa selama Perang Dunia II.

Blacksmith: Hanya satu pandai besi tradisional masih tetap di Pulau Weh, saat ini ia membuat alat untuk pertanian, kadang-kadang ia membuat rencong tradisional yang indah.

Pemancingan di pelabuhan tua: Daerah pelabuhan ini mendapatkan akibat yang parah oleh tsunami. Beberapa toko tidak dapat buka kembali. Banyak perahu nelayan tradisional dan bahkan beberapa perahu yang lebih besar untuk olahraga memancing laut dalam dapat dilihat di sini.

Sekolah baru: SMA dan rumah dibangun kembali setelah tsunami. SMA 2 rusak oleh tsunami dan sekarang ditempati oleh keluarga yang kehilangan rumah mereka di Tsunami. Sebuah Sekolah SMA 2 yang baru dibangun oleh Palang Merah Jerman di tempat baru di Aneuk Laot jauh lebih tinggi di atas permukaan laut. Lokasi sekolah yang lama akan menjadi tempat kontainer di masa depan.

Danau Aneuk Laot: Ini adalah danau air tawar yang menjadi sumber utama untuk itu Sabang sejak zaman Belanda.

Benteng Belanda dan Jepang: Pada ketinggian di sebelah barat Danau Aneuk Laot terdapat sisa-sisa benteng tua Belanda dan juga benteng Jepang pada Perang Dunia II tetapi saat ini sebagian telah tertutup tanaman dan sulit untuk ditemukan.

Sepanjang sisi Barat

Teluk Pria Laot: Teluk ini sangat mendalam – sebuah kapal Jerman dari Perang Dunia II terdapat di dasarnya sekitar 60 meter.

Air Terjun: Sebagian besar aliran air di Pulau Weh mengalir ke Teluk Pria Laot. Air terjun terbesar di Pulau Weh berada di jalan beberapa ratus meter di lembah ini. Terdapat lokasi yang dapat digunakan sebagai tempat berenang dan bersantai.

Lumpur didih: Di sisi Barat teluk Pria Laot terdapat sebuah dusun kecil yang disebut Siruit mana ada kolam lumpur mendidih panas di pantai dan sumber air panas bawah laut dengan kedalaman sekitar 6 meter.

Monyet ekor panjang: Saat mendaki punggung dataran tinggi untuk sampai ke Gapang, terdapat lokasi dimana banyak ditemui monyet abu-abu kecil (Macacas ekor panjang), kita dapat memberi mereka makan pisang atau kacang.

Pantai Gapang: pantai ini sangat indah dan terkenal di pantai Barat Pulau Weh, terdapat tempat perlengkapan menyelam, kafe, dan tempat tinggal.

Balek Gunung: Hanya beberapa kilometer dari Gapang melalui desa Iboih terdapat Balek Gunung di sisi pantai Barat Pulau Weh. Pantai ini sangat indah dan terdapat beberapa gua-gua kecil di tebing pantai yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dan berenang.

Pantai Iboih (Teupin Layeu): Dikenal sebagai Pantai Iboih daerah ini sering disebut pantai Teupin Layeu. Disini terdapat Rubiah Tirta Divers. Rubiah memiliki program aktif transplantasi karang hidup untuk menggantikan karang mati oleh peristiwa pemanasan global. Teupin Layeu adalah Cagar Kelautan yang dilindungi di mana tidak ada kegiatan penangkapan ikan yang diizinkan. Pulau Rubiah hanya berjerak tidak jauh dari pantai. Perairan sekitar Pulau Rubiah dan arah Utara ke lokasi Cot Ba’U penuh dengan karang dan kehidupan laut. Perjalanan dengan menggunakan perahu kaca dapat dilakukan untuk melihat kehidupan laut di perairan dangkal untuk mereka yang tidak ingin berenang. Semua kendaraan harus parkir di desa di pantai nelayan. Wisatawan harus berjalan di sepanjang jalan pantai indah untuk mencapai tempat sewaan alat menyelam, serta banyak bungalow dan restoran di sana.

Pulau Rubia: Pulau Rubiah dapat ditempuh dengan perahu dari Pantai Iboih. Perenang yang kuat dapat berenang ke sana. Pengunjung masih bisa melihat reruntuhan stasiun karantina yang digunakan oleh jamaah haji Indonesia saat akan berangkat haji ke Mekah jaman dulu.

Hutan Iboih: Di sebelah Barat dan Utara dari desa Iboih adalah Hutan Suaka Iboih. Hutan ini merupakan hutan lindung dan tempat yang indah – karena masih memiliki kanopi yang penuh mudah untuk berjalan masuk. Tantangannya adalah untuk melihat satwa liar dan bunga-bunga yang sebagian besar tetap tersembunyi di kanopi.

Titik Ba’U dan Tugu Monumen Nol Kilometer: Pemerintah Daerah telah membangun Monumen Kilometer Nol (Km O) di titik paling utara dan barat pulau Weh. Hal ini untuk mengingatkan kita bahwa “Sabang” terkenal sebagai bagian barat Indonesia dengan kata-kata “Dari Sabang sampai Merauke” dalam sebuah lagu nasional populer.

 

Diving dan Snorkeling

Kehidupan bawah air di sekitar Pulau Weh sangat spektakuler. Perairan antara Teluk Sabang hingga Pulau Rubiah sangat jernih dan tenang. Di sini banayk terdapat ikan daerah tropis yang kaya akan warna dan juga beragam terumbu karang. Sangat mudah ditemukan ikan bidadari, ikan kakak tua, dan banyak lagi yang lainnya.

 

Daerah untuk diving dan snorkeling Iboih – Rubiah.

Perenang snorkel berpengalaman dan penyelam akan dengan mudah terlihat oktopus, ikan pari dan penyu di sini. Jika Anda tidak ingin berenang, Anda dapat melihat dunia bawah laut dari perahu yang mempunyai kaca di bagian bawahnya. Pulau Weh juga merupakan tempat yang tepat untuk mendapatkan sertifikat menyelam. Biaya yang tidak mahal, terutama jika Anda menyewa peralatan.

 

Monumen Kilometer Nol di Pulau Weh

Pulau Weh yang beribukota Kota Sabang adalah bagian dari kepulauan Indonesia. Untuk menandakan bahwa Pulau Weh adalah bagian paling Barat dari Indonesia, pemerintah daerah membangun sebuah monumen di Titik Ba’U, di lokasi paling Barat dan Utara dari Pulau Weh. Monumen ini dinamakan “Monumen Kilometer Nol Indonesia“.

 

Monumen Kilometer Nol Indonesia

“Sabang” telah terkenal sebagai bagian paling Barat dari Indonesia dengan kata-kata “Dari Sabang sampai Merauke” dalam sebuah lagu nasional populer. Pada kenyataannya titik paling barat Indonesia adalah di Pulau Breuh, sebuah pulau dalam kelompok Kepulauan Aceh sekitar 20 nm di sebelah barat Pulau Weh. Titik barat sebenarnya merupakan titik yang terisolasi di sebelah barat Desa Meulingge yang sangat sulit dijangkau.

Titik paling utara dari Indonesia juga terdapat pada Pulau Rondo, sebuah pulau terisolasi tak berpenghuni di kelompok Kepulauan Weh sekitar 10 nm utara dari Titik Ba’U. Monumen Nol Kilometer di Titik Ba’U adalah berbentuk silinder, dengan tinggi sekitar 22 meter dan diameter sekitar 15 meter.

Sebuah rekomendasi telah dibuat untuk membangun jalan tangga turun ke tepi perairan di Titik Ba’U.

 

(http://budpar.sabangkota.go.id/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*