Get Adobe Flash player

Tradisi Meugang

“ SI THOEN TAMITA, SI UROE TA PAJOH ”
Artinya : Setahun kita mencari rezeki/nafkah,sehari kita makan/nikmati

1. Asal-usul
Di kalangan masyarakat Aceh ada tradisi unik untuk menyambut datangnya hari besar islam seperti menyambut datangnya BULAN RAMADHAN, yaitu tradisi MEUGANG. Di daerah lain juga ada tradisi sejenis misalnya di Jawa Tengah dikenal dengan nama Padhusan, di Jawa Timur dengan Megengan, di daerah Riau dan Sumatra Barat dan sekitarnya disebut Mandi Balimau, serta di Tapanuli Selatan disebut Marpangir.

Yang membedakan tradisi2 tersebut adalah karena tradisi Meugang tidak hanya bersyukur, saling kunjung dan berziarah ke makam leluhur tetapi ada kegiatan lain yang berkaitan dengan daging sapi atau lembu. Tradisi Meugang atau yang juga dikenal dengan berbagai sebutan, antara lain Makmeugang, Memeugang, Haghi Mamagang, Uroe Meugang atau Uroe Keumeukoh merupakan rangkaian aktivitas dari membeli, mengolah, dan menyantap daging sapi. Meskipun yang utama dalam tradisi Meugang adalah daging sapi, namun ada juga masyarakat yang menambah menu masakannya dengan daging kambing, ayam, juga bebek. Meugang biasanya dilaksanakan selama tiga kali dalam setahun, yaitu dua hari sebelum datangnya bulan puasa, dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, dan dua hari menjelang Idul Adha.

2. Waktu Pelaksanaan
Dalam satu tahun, tradisi Meugang dilaksanakan selama tiga kali yaitu :
a. Dua hari sebelum bulan Puasa (disebut Meugang Puasa),
b. Menjelang hari raya Idul Fitri (disebut meugang Uroe Raya Puasa),
c. Menjelang hari raya Idul Adha (Meugang Uroe Raya Haji).

3. Cara Memperoleh Daging :
a. Meugang Gampong, yaitu dengan cara melakukan iuran ( MEURIPEE ) diantara masyarakat satu kampung untuk kemudian dibelikan sapi, dipotong dan dibagi-bagi sesama mereka.
b. Meugang Kantor, yaitu meugang yg diadakan oleh kantor pemerintah atau swasta dan perusahaan-perusahaan yang ada di Aceh. Dapat dilakukan dengan memotong sapi untuk para karyawan atau cukup memberi sejumlah uang untuk membantu karyawan membeli daging sendiri.
c. Membeli di Pasar, kegiatan ini bersifat mandiri dilakukan oleh masyarakat Aceh dg biaya sendiri mereka pergi ke pasar untuk membeli daging.

4. Nilai-nilai di Balik Tradisi Meugang
a. Nilai Religius, karena dikaitkan dengan kenyataan bahwa MEUGANG dilaksanakan untuk menyambut datangnya hari besar islam.
b. Nilai Berbagi (Bersedekah), bahwa pada saat MEUGANG ada satu momen bagi para dermawan untuk berbagi rejeki kepada yang tidak mampu baik berupa uang tunai maupun berupa daging atau yang lainnya.
c. Nilai Kerbersamaan, begitu mengakarnya tradisi MEUGANG menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya (baik dengan cara menabung atau bahkan terpaksa harus berhutang), sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi Meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.
d. Menghormati Orang Tua, ada tradisi bawaan pada acara MEUGANG bagaimana seorang menantu laki2 harus dapat menyediakan daging buat keluarga mertuanya, santri yang mengunjungi gurunya dan anak-anak yang mengunjungi orang tuanya.
(disarikan dari berbagai sumber/MM)

One Response to Tradisi Meugang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*